Konvergensi Media
Sempat berkembang menjadi bubble economy tahun 2000, setelah kerontokan bisnis dotcom, internet tetap digemari
1,5 milyar penduduk dunia terakses ke internet dari total 6,5 milyar, data tahun 2006.Penetrasinya 16 persen di dunia. Angka Asia 10 persen
Konvergensi Media
2000 – 2005 pertumbuhan internet 232,8 persen di Asia.
Indonesia, dari 222 juta penduduk, 18 juta mengakses internet, atau penetrasi 8,1 persen
Ada fenomen kesenjangan digital (Dasar Jurnalistik)
Konvergensi Media
Pertemuan internet dengan bisnis media, mula-mula sebagai pelengkap distribusi. Berita cetak tetap hadir, namun informasinya bisa lebih dulu diakses dengan internet, dalam format HTML
Gejala pemberitaan masih bersifat post factum. Internet (dengan teknologi web) hanya menjadi displayer
Konvergensi Media
Kemudian editor online menemukan pentingnya melakukan “update” berita cetak, setelah versi cetak muncul
Update dalam bisnis media cetak, bisa menyaingi kata “breaking news” dalam bisnis media televisi dan radio
Pada bisnis online yang telah berkolaborasi dengan media cetak ini, muncul mekanisme “continouous update” dan “continuous deadline:”
Konvergensi Media
Continuous update dipelopori diantaranya oleh Detik.com (mulai 1998). Berita hari ini, baca hari ini. Update kemudian bahkan berlangsung dalam skala jam (hours update)
Memunculkan pola baru tulisan update. Berita pendek, tiga atau empat alinea, dengan konsep piramida bertingkat
Konvergensi Media
Update memunculkan gejala baru, yakni interaktivitas. Ini disebut sebagai gejala intrinsik dalam sifat media online. Kini watak intrinsik itu juga merasuki media berita yang bergabung dengan online system. Hasilnya, berita pun kini juga bersifat interaktif
Sampai tahun 2000 hampir seluruh media cetak dunia, telah memiliki “versi online”-nya, melengkapi versi televisi dan versi radio yang juga diselenggarakan oleh media bersangkutan.
Konvergensi Media
Pada bagian lain dunia, tumbuh gejala-gejala yang sejalan namun dengan caranya sendiri
Interaktivitas berita telah mendorong munculnya arena percakapan kandungan berita. Inilah yang kemudian ikut melatarbelakangi munculnya gejala media blog dan podcaster
Blog, kependekan dari web log. Yakni “jurnal web”. Kekuatan intrinsik lain dari internet, yakni personalisasi media, menimbulkan lompatan media baru, yakni jurnal web online yang bisa bersifat personal
Konvergensi Media
Rupert Murdoch menyebut generasi muda pembuat dan penyuka weblog itu dengan sebutan penduduk asli digital (digital natives) dan generasi migran dari media cetak ke online media disebut penduduk migran digital (digital migrant)
Kamis, Juni 11, 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar